100 persen Pangan Lokal

i'm Locavore

Penghasil Pangan yang Terus Menghilang

poster 2-06 poster 2-07 poster 2-04

Penghasil Pangan yang Terus Menghilang

Disaat angka kelahiran yang terus bertambah selama 10 tahun terakhir (2003-2013), jumlah rumah tangga yang mengandalkan usaha pertanian menurun sebanyak 979.890 rumah tangga (BPS, 2013) menjadi hanya 17.728.162 rumah tangga dari dibandingkan tahun 2003. Artinya, sebagian orang yang selama ini bekerja menghasilkan pangan telah meninggalkan sawah, kebun, kolam dan kandang-kandang ternaknya. Alsannya pekerjaan mennanam, memelihara berbagai sumber pangan dianggap tidak dapat diandalkan untuk menghidupi secara layak.

Ini situasinya:

Jumlah Usaha Pertanian Subsektor Hortikultura (sayur mayur) yang menjadi sumber serat,  mengalami penurunan menjadi sebanyak 6.335.475 rumah tangga

Jumlah usaha pertanian di subsektor kehutanan juga ditinggalkan oleh 44.981 rumah tangga. Dari sini kita mendapatkan madu yang sehat dan lezat, rotan, bemban dan aneka bahan baku untuk kerajinan yang memikat konsumen global. Juga sumber karbohidrat yang belum sempat dieksplorasi, diantaranya sukun.

Hal yang sama terjadi pada jumlah Usaha Pertanian Subsektor Perkebunan mengalami penurunan menjadi  hanya 1.357.968 rumah tangga.Padahal sejak dulu Indonesia dikenal dengan hasil perkebunanannya di seluruh dunia. Java Coffee salah satu yang melekat.

Jumlah usaha pertanian di subsektor peternakan yang dikelola rumah tangga mengalami penurunan menjadi sebanyak 5.626.618 rumah tangga.

Jumlah Usaha Pertanian Subsektor Perikanan yang dikelola rumah tangga mengalami penurunan sebanyak 514.432 rumah tangga

Sebaliknya, perusahaan pertanian berbadan hukum , yang mengindikasikan dikelola oleh perusahaan di subsektor pertanian tanaman pangan justru meningkat, demikian juga  usaha lainnya pada subsektor pertanian tanaman pangan.  Jumlah Usaha Pertanian Subsektor Tanaman Pangan Hasil perusahaan pertanian berbadan hukum di subsektor pertanian tanaman pangan sebesar 114 perusahaan, dibandingkan tahun 2003 mengalami kenaikan sebanyak 27 perusahaan, dan usaha lainnya pada subsektor pertanian tanaman pangan sebesar 1.316 usaha.

Sementara jenis perikanan usaha yang dikelola perusahaan berbadan hukum mengalami penurunan sebanyak 252 perusahaan. Demikian juga dengan jenis usaha kehutanan, mengalami penurunan sebanyak 74 perusahaan.

Kalau melihat sekilas kondisi di sektor perikan justru digalakkan program ekspor ikan, yang bisa jadi membuat industri perikanan dalam negeri kekurangan bahan baku, demikian juga konsumen lokal. Sementara, hutan kita terus menyempit demi perkebunan sawit, tambang atau pun peruntukan lainnya.  Konflik agraria terus meningkat, dari 106 perkara pada 2010 menjadi 198 pada 2012 dengan luasan areal konflik mencapai lebih dari 963 ribu hektar, dan melibatkan 141.915 kepala keluarga (KPA,2012). Belum lagi sederetan kerjasama pemerintah dengan 14 perusahaan multi nasional pada 2011, atas nama mengatasi perubahan iklim dan pemberdayaan desa. Padahal, perusahaan yang terlibat lebih sering memperdaya petani melalui monopoli benih dan perdagangannya.


Lahan pangan, pada 2012 diperkirakan tersisa 13 juta ha, menurun sekitar 110.000 ha pertahun.

Laju peningkatan impor bahan pangan yang dapat diproduksi petani Indonesia seperti beras, jagung, kedelai menunjukkan bahwa pemerintah tidak melindungi para produsen pangannya. Saat para penghasil pangan terus pergi dari lahan, laut, kebun, siapa yang akan menyediakan pangan kita? 

Locavore • May 4, 2015


Previous Post

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *