100 persen Pangan Lokal

i'm Locavore

Gula Semut Aren, gula sehat yang kian dicari

195130_3gulasemut

Gula pasir putih merupakan salah satu merupakan produk lokal yang terancam saat Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA 2015 diterapkan. Produksi gula putih Indonesia hanya 2,55 juta ton, karena pengelolaannya belum efisien, juga belum banyak melakukan diversifikasi produk.

Bisa jadi Indonesia hanya menjadi pasar untuk gula putih dari Thailand dan Vietnam, melanjutkan situasi saat ini. Di dalam negeri, konsumsi gula pasir memang terus meningkat seiring bertambahan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa. Demikian juga dengan jumlah penderita diabetes dan masalah berat badan.

Padahal, Indonesia punya jenis gula yang lain yang dapat dihasilkan oleh air nira, baik dari pohon kelapa, aren, mau pun lontar. Aneka gula dari jenis palem-paleman ini dikenal juga dengan sebutan palm suiker, dan disukai konsumen. Terbukti sejumlah teman dari Malaysia dan negara tetangga lainnya sering kali mencari gula aren, khususnya yang berbentuk butiran, dikenal dengan nama gula semut sebagai buah tangan.

Bukan hanya rasanya saja yang dianggap lebih “berkarakter” dibanding gula putih, Tetapi manfaat kesehatan yang membuat kian banyak orang beralih ke gula aren.

  • Index Glycemic (IG) rendah, rata-rata IG-35. Bandingkan dengan madu (IG-55) dan gula tebu (IG-68). Bermanfaat bagi pengidap diabetes, atau mereka yang ingin menurunkan berat badan
  • kandungan makro nutrient yang lebih unggul dari madu dan gula tebu. Memiliki nitrogen, klorida (CI), sulfur, dan boron yang tidak terdapat pada jenis pemanis lainnya.
  • Kandungan utama gula aren: sukrosa (70-79 persen), glukosa dan fruktosa masing-masing sekitar 3-9 persen, energy dilepaskan secara perlahan (slow energy release), sehingga tidak terjadi lonjakan atau penurunan kadar gula secara tiba-tiba.
  • Mengandung banyak serat.

Peluang bagi industri kecil di pedesaan

Gula semut aren ini banyak diupayakan oleh kelompok-kelompok industri kecil di pedesaan, dan tersebar di seluruh Indonesia. Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, di lereng pegunungan Bukit Barisan merupakan sentra gula Aren yang cukup terkenal. Salah satunya produk gula semut yang dihasilkan oleh Industri Rumah tangga ini, Sari Aren sudah dikemas dengan baik.

Menurut Suparmanto, pengrajin yang sedang berpameran di Jakarta pada April 2014, mereka siap memasarkan produknya, walau saat ini masih beredar di tingkat lokal.

Diversifikasi produk gula batok aren menjadi gula semut, dilakukan karena tidak sengaja. Saat membuat gula batok, tersisa kereng kering (air nira yang sudah mengental dan siap cetak) dipinggir kuali. Kereng biasanya dikonsumsi sendiri oleh produsen gula batok aren. Pada satu saat, Parman menghaluskan kereng menjadi butiran-butiran mirip gula pasir, dan produk ini dapat lebih praktis untuk digunakan. Juga lebih kering sehingga dapat disimpan lebih lama. Jika gula batok asli atau lempengan saat disimpan dapat lumer dan bercampur dengan kotoran dan jamur, gula semut aren cukup disimpan dalam wadah kering dan tertutup.

Hanya nira yang berkualitas bagus dapat dijadikan gula semut. Ketekunan Parman memperkenalkan gula semut kepada masyarakat sekitar, menarik perhatian Dinas Perindustrian Rejang Lebong, dan Parman pun mendapatkan pelatihan dan dukungan teknis untuk mengembangkan usahanya. Kini usahanya dapat menghasilkan gula semut sekitar 3 ton perbulan.

Jadi jangan cemas menghadapi MEA 2015. Asal mau jeli melihat kekayaan yang ada, pasti ada peluang. Terlebih lagi bisa membuat masyarakat Indonesia lebih sehat. Sesendok gula aren, pasti baik bagi kesehatan dan ekonomi komunitas.

Kawasan penghasil gula aren:

• Liwa, Lampung Barat , disebut-sebut sebagai penghasil gula aren terunggul. mencapai 285,1 Hektar, dengan rata-rata hasil gula aren pertahun mencapai 170 ton lebih pertahun. Harganya perkilo 11.000/kg.

• Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakeb), di Jawa Tengah. Di Majenang, Cilacap, gula aren banyak diolah menjadi gula semut (gula aren kristal).

• Tomohon, Sulawesi Utara. Gula arennya diolah dengan menggunakan energi panas bumi. Selain membantu peningkatan mutu produksi gula aren juga mengurangi pemakaian kayu bakar untuk memasak gula aren. Produk gula aren
dari Tomohon diekspor ke Eropa dengan harga sekitar Rp 110.000 per kg.

Locavore • June 10, 2015


Previous Post

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *