100 persen Pangan Lokal

i'm Locavore

Manisnya nira lontar Rote

nira 4nira 1

Di satu siang yang terik di desa Thie, Pulau Rote, seorang teman menyodorkan nira lontar yang baru diturunkan dari pohonnya. Kami meminumnya langsung dari haik, wadah yang terbuat dari daun lontar, dan seketika haus dan kepenatan pun hilang.

Di Pulau Rote, yang disebut juga ‘Nusa Lontar’, pohon lontar merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Pohon lontar adalah ‘pohon kehidupan’. Dulu, kedewasaan seorang lelaki rote diukur dengan kemampuan mengiris/menyadap lontar, sementara kedewasaan seorang perempuan dilihat dari kepiawiannya menenun dan menganyam daun lontar. Beberapa peneliti mencatat hubungan erat ini, diantaranya Harvest of The Palm bukunya Prof. Dr. James J. Fox (1977); dan Rote Ndao Mutiara dari Selatan, Falsafah dan Pandangan Hidup Suku Rote tentang Lontar. Andre Z. Sohdan Maria Indrayana(2008).

 Pohon Lontar/Siwalan

Asal : India. Cocok dengan wilayah kering, dapat tumbuh di tanah berpasir atau tanah yang kaya bahan organik.
Batang : bahan bangunan rumah

Daun lontar : atap, bahan anyaman untuk beragam alat sehari-hari dari wadah, alat musik tradisional sasando, topi khas Rote Ti’ilangga, alat tampi beras/nyiru, alat timba/haik, tikar,

Pelepah: untuk dijadikan pagar, tali temali

Buah : yang muda bisa langsung dimakan, yang sudah tua jadi makanan ternak.

 

Tetapi manisnya lontar ada pada nira biasa disebut “tua” atau “tuak”, cairan yang keluar dari luka toreh pada mayang. Pada Agustus hingga November,saat sedang nira mengucur deras, hampir semua orang meminumnya pada pagi dan siang. Anak-anak pergi menggembalakan ternaknya berbekal gula lontar cair. Tidak lupa jagung goreng yang juga direndam dalam gula cair sebagai pengganjal hingga siang hari.

Dalam kehidupan orang Rote ada istilah dalam bahasa dialek Thie: “Leo mae nana’ak ta dadi o sadi ela oe tua ma kaifo inggu no ndaeana osi” yang berarti “biarpun gagal panen asal ada sisa nira/gula serta sayu kelor dan sayur bayam”. Memang berbagai makanan khas orang Rote seperti rumput laut, daun kelor, atau daun pepaya diberi bumbu gula yang difermentasi yang disebut lawar.

Data gizi Kabupaten Kupang yang dikumpulkan dokter Frans Radja Haba pada 1980-an,menunjukkan tingkat gizi anak balita terbaik selain Kupang, adalah Sabu dan Rote bagian barat (Lelain, Dengka, Oenale, Delha, dan Thie) yang paling banyak mengkonsumsi gula lontar dalam campuran sehari-hari.

Ada beragam olahan air nira agar lebih awet dan menjadi sumber pendapatan orang rote, yaitu:

 Gula aer (tua nasu):   Tuak dimasak diatas tungku kayu bakar selama beberapa lama hingga mengental dan berwarna coklat muda. Dari 25 liter tuak, dihasilkan sekitar lima liter gula aer. Gula aer air ini bisa digunakan seperti gula, bumbu masak dan juga pengawet daging agar dapat disimpan lama.
Dari gula aer dapat dibuat dua jenis minuman beralkohol:

  1. Laru, minuman hasil fermentasi dengan menggunakan akar pohon laru (Alstonia acuminata ) yang beralkohol sekitar 10%. Laru juga digunakan sebagai jamu.
  2. Sopi, yang kandungan alcohol lebih dari 40%. Sopi biasanya dibuat oleh laki-laki.

Gula Lempeng (tua batu) : Cairan gula aer dimasak lebih lama hingga sangat kental dan lengket. Lalu dibuat cetak dalam bulatan-bulatan dari daun lontar. Setelah dingin gula memadat. Menikmati gula lempeng segigit demi segigit dengan teh hangat nikmat sekali.

Gula semut (tua batu meni): Setelah gula mendingin, diolah lebih lanjut sehingga berbentuk butiran. Gula semut digunakan untuk membuat kue dan campuran minuman.

Berpotensi dikembangkan

Pohon lontar telah menopang kehidupan masyarakat Pulau Rote Ndao dan selama berabad-abad. Saat menjual tanah, pohon lontar tetap dimiliki pemilik sebelumnya, kecuali sudah diperhitungkan dalam jual beli.

Berbagai bentuk gula lontar merupakan oleh-oleh yang kerap dipesan dari Rote. Sayangnya, hingga saat ini belum dikemas secara khusus, seadanya saja. Di pasar, gula Aer dijual dalam derigen berukuran 5 liter seharga Rp. 50.000,- (Okt 2012). Sementara gula lempeng dijual per 5 atau 10 keping tergantung besarnya. Gula pasir lontar dikemas dalam plastik mika bening saja.

Nira lontar memilili potensi lain yang dapat dikembangkan agar nilainya bertambah, yaitu menjadi:

  1. Nata de nira
  2. kecap manis dan kecap asin
  3. Etanol, asam asetat dan gliserin bahan bio medika
  4. bioenergi bahan bakar.

Kini, sebagian pohon Lontar ada yang mulai tua dan tidak mengeluarkan nira lagi. Sementara sebagaian lainnya ditebang untuk bahan bangunan. Agar Pulau Rote selalu menjadi Nusa Lontas, semoga masyarakat dan pemerintah daerahnya tidak lupa melakukan penanaman kembali, sehingga manisnya gula lontar Rote dapat terus dinikmati hingga nanti.

Locavore • July 21, 2016


Previous Post

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *