100 persen Pangan Lokal

i'm Locavore

Festival Padi Nusantara

1-041-031-021-01

Pameran

“Padi sumber kehidupan dan Kebudayaan Nusantara”

Paris Van Java, Bandung

22, 23, 24 Agustus 2014

 

 

Latar Belakang

 

Selama berabad-abad, padi merupakan salah satu sumber energi utama dan sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat di Asia, termasuk di Indonesia. Ada 14,1 juta rumah tangga petani yang setia menanam padi di pelosok negeri. Ironisnya, petani padi yang bekerja untuk menyediakan sumber pangan kita, justru menjadi kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Perlahan tapi pasti, anak-anak muda meninggalkan sawah tidak mau lagi bertani. Perlahan tapi pasti, kebudayaan dan jati diri sebagai petani padi pun pupus.

 

Sebagai sumber penghidupan, kegiatan terkait padi menjadi sumber budaya bagi kelompok masyarakat yang bergantung pada padi. Bagi masyarakat Sunda, padi merupakan bentuk kasih sayang Nyai Pohaci terhadap mereka. Sehingga masyarakat Sunda wiwitan mengembangkan ritual terkait dengan pertanian, yang masih dilaksanakan oleh pemegang kepercayaan Sunda Lama (Sunda Wiwitan).   Di Kalimantan Barat ada nugal dengan makna filosofi kebersamaan, gotong royong untuk menanam padi.

 

Keanekaragaman jenis padi lokal Indonesia sekitar 8.000-12.000 jenis varietas padi lokal. Merupakan sumber plasma nutfah untuk mengembangkan jenis padi baru yang sesuai dengan situasi iklim dan juga selera masyarakat. Pandan Wangi, Beras Solok, Menthik Susu, Genjah Rante, Rojolele, Saodah, Cempo Merah, Andel Abang, Wajolaka, merupakan sebagian nama beras lokal. Sayangnya, kebanyakan tidak tumbuh di sawah/ladang petani tetapi disimpan di pusat-pusat penelitian, di dalam dan di luar negeri.

 

Padahal dengan berbagai kekayaan padi lokal kita, sudah dikembangkan oleh sebagian kelompok petani dengan cara yang ramah lingkungan, menghasilkan beras yang sehat. Bahkan, kehebatan padi lokal kita diakui hingga ke luar negeri. Ironisnya, di dalam negeri sebagian besar masyarakat tidak mengenal padi lokal dengan baik. Konsumen dalam negeri, malah kerap mencari beras Thailand, Basmati dari India, karena tidak tahu ada beras lokal yang tak kalah enak dan sehat. Padahal saat ini kelas menengah di Indonesia bertumbuh, seiring dengan daya beli yang meningkat, ada kesadaran dan juga tumbuhnya selera baru untuk mencari beras/nasi enak dan juga sehat (bebas kimia) untuk konsumsi sehari-hari.

 

Jika kedua kedua kepentingan petani dan konsumen dapat dipertemukan dan dirawat, dapat mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak.

Situasi Masyarakat dan Beras Lokal Nusantara:

  • Beras lokal tidak berada dalam top of mind masyarakat, sebagai beras yang berkualitas, sehat dan bercita rasa prima.
  • Perlu meningkatkan kesadaran tentang berharganya beras lokal kita, sebagai kekayaan pangan, kebudayaan dan kesehatan (beras sehat, beras hitam, beras merah) dan menjadi sumber penghidupan banyak petani.
  • Meningkatnya daya beli dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya produk pangan sehat perlu dipertemukan dengan kemampuan petani beras lokal yang menghadirkan beras sehat sehingga saling mendukung dan menggerakkan ekonomi.

 

 

Tujuan

Pameran “Padi Sumber Kehidupan dan Kebudayaan Nusantara” bertujuan:

  1. Memberikan visualisasi dan menciptakan pengalaman baru masyarakat (kota) melihat kembali kekayaan padi lokal, potensinya, cita rasa dan para petani yang menanamnya
  2. Mengangkat potensi padi lokal sebagai sumber pangan yang sehat, sumber plasma nutfah untuk menyilangkan jenis baru yang sesuai dengan situasi iklim, kebutuhan dan selera masyarakat.
  3. Menjadi ruang untuk mengajak masyarakat kota mendukung petani padi lokal Indonesia dan menangkap respon terhadap padi lokal Indonesia.
  4. Membuka ruang diskusi mengenai padi lokal dan potensinya.
  5. Mengangkat success stories dari petani yang sudah mengembangkan padi lokal yang dapat menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Locavore • August 22, 2014


Previous Post

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published / Required fields are marked *